Tag

, ,


Economy class coach

Image via Wikipedia

Sebenarnya naik kereta ekonomi merupakan pilihan terakhir bagiku untuk pulang ke Salatiga, karena selain hanya sampai di semarang juga padatnya kereta yang membuatku berfikir 2 kali untuk naik transportasi yang satu ini. Namun dari semua kekurangannya apabila kita bisa melihat sisi yang lain kita bisa banyak belajar dari cerita-cerita, apa yang kita lihat, apa yang terjadi di kereta ekonomi. Seperti yang saya alami ketika naik kereta tawang jaya jurusan semarang. Waktu itu kereta berangkat pukul 21.30, namun jam 20.00 ketika aku sampai di stasiun senen, tiket dah habis terjual. Wah alamat bakalan berdiri dan umpek2an nih pikirku.

Akhirnya aku masuk dan menunggu di jalur 1, disana sebenarnya tidak banyak penumpang, tapi kok tiket dah habis y??aneh….ya sudahlah…bukan rahasia lagi klo soal tiket kereta api semua orang juga tau…..sambil menunggu aku melihat suasana sekeliling stasiun. Terlihat anak kecil yang menjual koran…”koran2…koran2…yang buat lambaran, yang buat lambaran (maksudnya buat alas nanti saat tidur)……”cara anak itu dalam menawarkan koran bekasnya.

Tidak berapa lama melintas didepanku ibu2 yang sedang menjual makanan, anak2 tukang sapu kereta, pokoknya segala macam profesi2 informal lah….Dari semua yang melintas berlalu lalang didepanku ada satu yang menarik dan mungkin bisa jadi renungan buat kita semua…

Dua orang pemuda berlari melintas didepanku, kemudian duduk tidak jauh dari tempatku menunggu kereta tiba. Dari tempatku terdengar jelas pembicaraan mereka, Pemuda 1 “Assalamualaikum, Selamat malam bapak2, ibu2 perkenankan saya memperkenalkan produk baru…………., wah gw agak lupa kalo pas ngomong gitu, memang perlu pembelajaran.” Pemuda 2 “Wah ntar semua pada jawab lagi, ‘wa’alaikum salam……” hahahaahaha…keduanya lalu tertawa….

sejenak aku melihat mereka berdua, ternyata mereka sedang belajar presentasi untuk menawarkan barang dagangannya berupa ballpoint..kemudian pemuda 2 berkata “Wah gw agak grogi klo ngomong gitu., Pemuda 1 menimpali ” Ya emang awalnya gitu lah, nanti lama2 terbiasa…

oww…ternyata si pemuda satunya lagi belajar, well…hebat…salut, salut…Kenapa saya jadi merenung sangat jauh dengan peristiwa yang baru saya lihat. Bayangkan saja dengan profesi hanya seorang penjual ballpoint, yang akan menawarkan ke penumpang, mereka sangat serius, bahkan bisa dibilang mereka profesional. mereka berlatih presentasi sebelum kereta datang, merapikan pakaian, dll.

Jika kita pikir lagi, siapa  sih yang akan mendengarkan mereka menawarkan ballpoint, saya yakin dari 100 orang hanya 1 yang mau mendengar orang jualan ballpoint di kereta ekonomi. Bayangkan saja bahkan tanpa ada yang mendengar, mereka tetap persiapkan dengan baik apa yang akan mereka sampaikan. Sebuah profesi sederhana yang dikerjakan dengan luar biasa….saya jadi malu, sebagai pns saya kadang malas2an, ogah2an, tidak profesional dalam melayani masyarakat…

Dengan kita lihat hal2 tersebut, seharusnya kita bisa berkaca pada diri sendiri dan bertanya pada diri sendiri, sudah pantaskah apa yang kita terima dengan pengabdian yang kita berikan?sudah maksimalkah pekerjaan kita laksanakan?sudah profesioalkah kita dalam bekerja? Mari kita renungi dan kita perbaiki diri kita dalam mengemban tanggung jawab yang diberikan Allah kepada kita….semoga kita bisa menjadi yang lebih baik lagi dalam mengemban amanah. Amin…