Tag

, , , ,


Allah in stone in Rohtas Fort, District Jhelum...

Image via Wikipedia

Tekanan dalam hidup saat ini, kondisi lingkungan yang tidak sehat serta hubungan dengan orang lain yang tidak sesuai dengan harpan kita membuat kita menjadi seseorang yang mudah dan cepat marah. Sepintas dari judul tulisan ini sangat mudah kita ucapakan, ketika kita menasehati orang lain untuk bersabar dan jangan marah ketika menghadapi hal-hal tersebut, namun pada kenyataanya tentu sangat sulit untuk mengelola rasa marah kita dan tetap bersabar dalam menghadapi suatu masalah.

Apakah sebenarnya marah itu?

Kemarahan adalah salah satu delusi paling umum dan merusak yang menimpa pikiran kita hampir setiap hari.Kemarahan adalah delusi dalam pikiran yang berfokus pada objek hidup atau mati, yang mengakibatkan segala sesuatunya menjadi tidak menarik, melebih-lebihkan hal-hal yang bersifat buruk, dan menjadikan kita kecenderungan bertindak destruktif. Sebagai contoh, ketika kita marah dengan seseorang karena sesuatu hal yang tidak sesuai dengan pikiran dan harapan kita maka saat itu yang tampak hanyalah keburukan dari seseorang tersebut atau seseorang tersebut menjadi tidak menarik dan menyenangkan. Kemudian hal tersebut akan dilipatgandakan dengan rasa marah tadi, sehingga seseorang yang keburukannya apabila dinilai dari skala 1 s/d 10 nilai buruknya adalah 4, dengan adanya kemarahan maka nilai buruk atau kualitas yang buruk dari seseorang tersebut akan menjadi berlipat-lipat, menjadi 20 bahkan 100. Ibaratnya ada Leverage (daya ungkit) dalam amarah yang bisa melipatgandakan kelemahan atau keburukan seseorang dan mengabaikan semua kualitas yang baik dan kebaikan dari seseorang tersebut.

Lalu apakah dampak negatif dari marah itu?

Psikolog Alima Phillip menerangkan beberapa dampak buruk akibat rasa amarah yang tak dikontrol. Tak hanya memengaruhi kejiwaaan, rasa marah juga dapat membahayakan kesehatan tubuh.

1.       Efek langsung ke tubuh

Ketika kehilangan kontrol, tubuh kitalah yang menerima dampak langsungnya. Seketika tekanan darah meningkat dan irama napas menjadi cepat, secepat seperti tengah bersiap untuk berkelahi. Pada beberapa kasus, tekanan darah tinggi dapat menyebabkan sakit kepala mendadak. Dalam jangka panjang, dapat meningkatkan risiko serangan jantung. Saat marah, suhu badan kita pun naik sehingga tubuh mudah berkeringat.

2.       Letih

Ekspresi kemarahan tentu membutuhkan energi. Alhasil, setelah marah kita pun akan merasa letih. Dalam proses itu, hormon stres akan meningkat seakan-akan membuat perasaan bergejolak. Ketika marah, kita mungkin merasa memegang kendali sementara, tapi tanpa disadari hal itu justru menguras habis energi kita. Akibatnya, produktivitas dalam bekerja pun berkurang karena merasa letih.

3.      Sulit tidur

Dengan begitu banyaknya pikiran negatif di kepala dan kegelisahan yang kita rasakan, rasanya sulit untuk terlelap tidur. Apabila kita tertidur dalam kondisi kelelahan akibat marah pun, tidur tentunya tidak akan berkualitas. Ketika kita tidur dengan rasa marah, tidur pun tak akan nyenyak. Adapun kekurangan tidur akan menyebabkan pikiran negatif yang akan memicu emosi. Lebih lanjut, insomnia dan masalah tidur lainnya pun akan berdatangan seiring dengan perasaan emosi Anda yang berkelanjutan.

4. Depresi

Terus-menerus menyimpan rasa marah dapat berujung pada depresi. Hal itu akan memicu serangkaian perilaku yang membahayakan kesehatan seperti merokok dan minum minuman keras. Terkadang, orang menggunakan amarah untuk meluapkan perasaan depresi dan ketidakberdayaan. Amarah bukanlah rasa alamiah yang menyehatkan. Maka itu, bila terus dirasakan, kesehatan kita pun akan terancam.

5. Terasing

Kita memang terkadang dapat kehilangan kontrol diri, tapi bila terlalu serimg tentu akan berdampak pada aspek sosial kita dalam keseharian. Kita pun akan lebih nyaman berada sendirian ketimbang bergaul dengan orang lain. Dalam lingkungan kantor, bila tidak bersosialisasi, bawahan kita akan kurang menghormati dan atasan kita akan melihat kita sebagai orang yang tak dapat mengontrol emosi.

6. Mengambil keputusan yang salah

Amarah dapat membuat kita tidak rasional. Kita pun terjebak dan kehilangan fokus dalam menghadapi suatu masalah. Nyatanya, saat seharusnya memutuskan hal terbaik dalam suatu maslah, dalam keadaan marah kita mungkin malah akan melakukan hal yang sebaliknya. Kita pun tak mampu melihat masalah dari perspektif yang berbeda dan berujung dengan mengambil keputusan yang salah.
Bagaimana Marah dalam Islam itu?

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ada seorang lelaki berkata kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Berilah saya nasihat.” Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan marah.” Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau tetap menjawab, “Jangan marah.” (HR. Bukhari). Imam Nawawi rohimahulloh mengatakan, “Makna jangan marah yaitu janganlah kamu tumpahkan kemarahanmu. Larangan ini bukan tertuju kepada rasa marah itu sendiri. Karena pada hakikatnya marah adalah tabi’at manusia, yang tidak mungkin bisa dihilangkan dari perasaan manusia.”

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam juga pernah menasihatkan, “Apabila salah seorang dari kalian marah dalam kondisi berdiri maka hendaknya dia duduk. Kalau marahnya belum juga hilang maka hendaknya dia berbaring.” (HR. Ahmad, Shohih)

Bila upaya ta’awwudz, diam, duduk, dan berbaring tidak mampu mengendalikan amarah Anda, maka upaya terakhir yang bisa dilakukan adalah dengan cara berwudu atau mandi. Sebagaimana sabda Nabi saw., “Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan terbuat dari api. Dan api hanya bisa dipadamkan oleh air. Oleh karena itu, apabila seorang di antaramu marah maka berwudulah atau mandilah.” (HR Ibnu Asakir, Mauquf).

Dahulu ada juga seorang lelaki yang datang menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan, “Wahai Rosululloh, ajarkanlah kepada saya sebuah ilmu yang bisa mendekatkan saya ke surga dan menjauhkan dari neraka.” Maka beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan tumpahkan kemarahanmu. Niscaya surga akan kau dapatkan.” (HR. Thobrani, Shohih)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rohimahulloh juga mengatakan, “Bukanlah maksud beliau adalah melarang memiliki rasa marah. Karena rasa marah itu bagian dari tabi’at manusia yang pasti ada. Akan tetapi maksudnya ialah kuasailah dirimu ketika muncul rasa marah. Supaya kemarahanmu itu tidak menimbulkan dampak yang tidak baik. Sesungguhnya kemarahan adalah bara api yang dilemparkan oleh syaithan ke dalam lubuk hati bani Adam. Oleh sebab itulah anda bisa melihat kalau orang sedang marah maka kedua matanya pun menjadi merah dan urat lehernya menonjol dan menegang. Bahkan terkadang rambutnya ikut rontok dan berjatuhan akibat luapan marah. Dan berbagai hal lain yang tidak terpuji timbul di belakangnya. Sehingga terkadang pelakunya merasa sangat menyesal atas perbuatan yang telah dia lakukan.”

Lalu kenapa kita mesti bersabar??

Hal ini seperti yang dikatakan oleh penyair :

Sabar itu memang seperti namanya

Pahit kalau baru dirasa

Tapi buahnya yang ditunggu-tunggu

Jauh lebih manis daripada madu

Allah ta’ala juga berfirman yang artinya, “Sesungguhnya balasan pahala bagi orang-orang yang sabar adalah tidak terbatas.” (QS. Az Zumar [39]:10). Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata didalam kitab tafsirnya, “Ayat ini berlaku umum untuk semua jenis kesabaran. Sabar dalam menghadapi takdir Allah, sabar dari rasa marah, sabar dari kemaksiatan.

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang sabar pahala untuk mereka yang tanpa hitungan, artinya tanpa batasan tertentu ataupun ukuran tertentu. Dan hal itu tidaklah bisa diraih kecuali disebabkan karena begitu besarnya keutamaan sifat sabar dan agungnya kedudukan sabar disisi Allah, dan menunjukkan pula bahwa Allah lah penolong segala urusan.”

Maka dari itu mari kita kendalikan dan kita jaga diri ini dari rasa marah, dan tetap bersabar, karena sabar itu indah…semoga kita termasuk dalam orang –orang yang bersabar…Amin.

Sumber :

http://www.dudung.net/artikel-bebas/menyiasati-emosi-marah-dalam-keluarga.html

http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/jangan-marah.html

http://www.anger-management-techniques.org/

http://www.salafiyunpad.wordpress.com

http://sehat.bionaturally.net/2010/09/enam-alasan-tidak-perlu-marah.html#axzz1C45AATFx