Tag

, , ,


IMG_6994

Image by Toms Bauģis via Flickr

Duerrr……….Dueerrrrrrrr…….Suara petasan sudah mulai ramai berbunyi, para penjual petasan dan terompet dadakan itu telah berjajar di sepanjang jalan-jalan di Denpasar, Bali. Entah berapa banyak petasan, kembang api yang telah diledakkan di udara, yang jelas ini pertanda sudah mendekati akhir tahun 2010, dan akan memulai tahun baru 2011. Semua orang berlomba-lomba membeli petasan dan meledakannya dimalam hari. Pak RT, Polisi, Pedagang, Anak-anak, bahkan Ibu-ibu pun ikut beramai-ramai beradu petasan.

Dari sudut lampu merah perempatan jalan, dua orang anak kecil hanya memandang meriahnya malam-malam mendekati tahun baru. Terkadang mereka ikut bersorak-sorai ketika langit menjadi berwarna terang. Saat lampu di perempatan berwarna merah mereka kembali bekerja menodongkan tangan ke pengendara yang berhenti. Meminta belas kasihan dan mengarap ada orang yang memberi uang, bukan untuk membeli petasan dan kembang api tentunya, akan tetapi sebungkus nasi untuk mereka makan. Tidak ada yang spesial bagi mereka ditahun baru, baginya semua hari sama, dengan kejadian yang sama, hanya uang yang mereka kumpulkan saja yang berbeda.

Bagi sebagian besar orang tahun baru membawa harapan baru, cita-cita baru, bisnis baru dan segalanya yang serba baru. Mereka tidak lagi memikirkan berapa banyak uang yang harus mereka bakar untuk petasan, pesta yang mewah, hanya semangat hedonisme yang mengisi otak mereka untuk merayakan pergantian tahun. Bagi mereka tahun baru menjadi sangat spesial hingga harus dirayakan dengan milyaran rupiah, karena uang tidak ada lagi artinya.

Sementara itu dari sudut jalan didepan emperen toko anak-anak polos itu masih saja mondar-mandir mencari tambahan uang untuk membeli nasi bungkus ditengah gerimis yang mulai turun. Ditengah kegiatannya, tiba-tiba seorang pengendara motor memarkir motornya dan mendekati mereka dipinggiran toko yang sudah tutup itu. Anak-anak itu terlihat takut, takut jika ditangkap, takut jika harus dibawa ke kantor polisi atau takut jika harus membayar uang preman. Wajah mulai mereka terlihat pucat karena ketakutan…

Segera pengendara itu turun dan menyapa” jangan takut dik, saya bukan petugas, saya hanya berteduh, tadi lupa tidak bawa mantel”. kalian lagi apa disini? tanya pemuda itu..

Biasa mas, nyari makan, jawab anak yang dari postur tubuhnya mungkin berusia 8 atau 9 tahun.

Mereka mulai menyalakan rokok untuk mengusir dinginnya malam ini..kepulan asap keluar dari bibir anak-anak yang sebenarnya lebih pantas untuk makan permen lolipop. Tatapan matanya sangat tajam dan liar, mungkin inilah hasil dari kerasnya hidup di jalanan, pikir pemuda tersebut.

Ditatapnya kedua anak tersebut, kemudian pemuda itu bertanya “Apa harapanmu di tahun 2011 dik?”

Kedua anak itu terdiam membisu dan dari raut mukanya terlihat sedang berfikir layaknya sedang menghadapi ujian nasional… Atau mungkin pertanyaan ini yang sedikit konyol dan terasa tidak masuk akal untuk ditanyakan kepada anak kecil yang juga anak jalanan. Mungkin lebih tepat ditanyakan kepada selebriti atau pesohor-pesohor negeri ini yang sudah jelas ada harapan di tahun mendatang. Tapi tidak ada salahnya bukan? Toh anak kecil itu juga berhak punya harapan. Pemuda tersebut sejenak memikirkan apa yang baru saja ditanyakkannya.

Tak lama kemudian anak itu menjawab “Harapanku ingin sekolah biar bisa kerja dan tidak perlu mengemis lagi, punya rumah biar tidak lagi tidur di emperan toko, biar bisa berak di WC tidak lagi di pinggir kali, satu lagi mungkin punya kendaraan biar bisa jalan-jalan”. Wajah anak-anak itu kelihatan berseri, mungkin sambil membayangkan apabila itu semua bisa menjadi kenyataan.

Sejenak pemuda itu berfikir, alangkah bodohnya orang yang tidak punya harapan, sekecil apapun kita, serendah apapun kita, kita berhak punya harapan. Anak sekecil itu saja bisa memiliki harapan yang mungkin terasa begitu naif, tapi itulah harapan, sesuatu yang membuat kita bisa bertahan.

Kenapa Mas, kok diam saja? Kalo harapan Mas apa? Tanya anak itu…Hmmmm..iya dik, tidak apa-apa, cuman berfikir saja, kalo harapan ku……..hmmmm….harapanku….pemuda itu terlihat bingung memikirkan harapannya. Karena saat  ini dia sendiri juga tidak tau apa yang diharapkannya, karena semua yang diharapkannya jauh dari kenyataan. Bisnisnya gagal, hutangnya banyak, namun terasa masih lebih baik dari anak-anak itu. Setidaknya pemuda tersebut masih bisa tidur nyenyak di kontrakannya, ditemani dengan istri yang cantik, masih bisa makan, dan masih bisa jalan-jalan.

Kemudian pemuda itu menjawab ” Harapanku agar hujan ini segera reda dan langit menjadi cerah kembali

Ah masak cuman itu Mas? Tanya anak-anak itu……

Ya mungkin terlihat sesederhana itu, tapi mungkin harapanku jauh lebih banyak dari harapanmu. Suatu saat kalian akan mengerti..”Wah hujan sudah reda dik, aku pulang dulu lah kalo begitu” Segera pemuda itu bangkit dari duduk dan menaiki motornya.

“Ok lah  mas kalo begitu,….Selamat mas, harapan mas sudah terkabul, hujannya sudah reda” sambil tersenyum anak-anak itu pun kembali ke aktivitasnya…

Pemuda itu hanya tersenyum, lalu segera pergi…..Melaju dengan motornya………

Begitulah hidup akan berjalan seperti langit yang mendung, hujan, dan kembali cerah kembali……