Tag

, , ,


Pasar modal mempunyai peran besar bagi perekonomian suatu negara karena mempunyai dua fungsi sekaligus, yaitu fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Dikatakan mempunyai fungsi ekonomi karena pasar modal menyediakan fasilitas dan sarana yang mempertemukan dua kepentingan yaitu pihak yang memiliki kelebihan dana (investor) dan pihak yang memerlukan dana (issuer). Dengan adanya pasar modal maka pihak yang memiliki kelebihan dana dapat menginvestasikan dana tersebut dengan harapan memperoleh imbalan berupa dividen ataupun capital gain, sedangkan pihak perusahaan (issuer) dapat memanfaatkan dana tersebut untuk kepentingan investasi tanpa harus menunggu tersedianya dana dari kegiatan operasi perusahaan. Pasar modal dikatakan mempunyai fungsi keuangan karena pasar modal memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh imbalan (return) bagi pemilik dana, sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih.

Ada berbagai macam efek yang diterbitkan dan diperdagangkan di pasar modal Indonesia yang bisa menjadi pilihan dalam berinvestasi, salah satunya yaitu efek bersifat utang yang berupa obligasi atau surat utang jangka menengah. Sebagai salah satu instrumen dalam pasar modal, obligasi mempunyai daya tarik tersendiri bagi investor. Hal ini dikarenakan obligasi cenderung memberikan yield atau imbal hasil yang lebih besar daripada misalnya investor tersebut menyimpan uangnya di deposito. Selain itu jangka waktu yang bervariasi memungkinkan investor untuk menanamkan uangnya dalam obligasi apakah untuk jangka waktu 1 tahun saja atau lebih dari itu. Hal ini dalam rangka untuk mendapatkan imbal hasil yang tentunya diharapkan akan memberikan keuntungan yang signifikan.

Namun dari semua keunggulan tersebut masih terdapat permasalahan terkait dengan minimnya volume transaksi di pasar obligasi yang berakibat pada tingginya risiko likuiditas. Hal ini mengakibatkan meskipun masuknya dana asing ke pasar domestik tinggi, aliran dana asing itu tidak dirasakan pasar obligasi korporasi. Investor asing selama ini lebih memburu surat utang negara (SUN) daripada obligasi korporasi. Dengan likuiditas yang rendah, investor asing kawatir mengalami kesulitan untuk menarik dananya dari portofolio obligasi korporasi. Apalagi, saat ini aktivitas perdagangan obligasi korporasi dilakukan di luar bursa atau over the counter (OTC) yang membuat keterbukaan informasinya tidak transparan.

A. Permasalahan dalam Likuiditas Efek Bersifat Utang di Indonesia

Istilah mengenai likuiditas perdagangan obligasi merupakan sebuah indikator dari seberapa mudahnya sebuah obligasi yang dipegang oleh para pemilik modal untuk dijadikan kas pada pasar sekunder. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Amihud dan Mendelson (1991) yang menguji pengaruh likuiditas aset pada tingkat pengembalian aset dengan jatuh tempo yang tak terhingga (seperti: saham) yang diuji pada obligasi. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa pengembalian sampai jatuh tempo obligasi (yield to maturity) lebih tinggi pada surat utang yang memiliki likuiditas yang lebih rendah.

Hal ini mengindikasikan bahwa premi risiko (yield diffrential) antara surat utang (notes) dengan T-bill menurun terhadap jatuh tempo surat utang. Alasan Amihud dan Mendelson (1991) adalah setiap melakukan transaksi selalu dikaitkan dengan biaya transaksi, sehingga surat utang yang semakin likuid akan berdampak pada harga surat utang yang semakin tinggi.

Apa yang menarik dengan likuiditas obligasi? Faktor likuiditas perdagangan obligasi berpengaruh terhadap tingkat pengembalian obligasi karena faktor likuiditas merupakan salah satu risiko bagi pemodal bila memegang obligasi. Dengan demikian bahwa faktor likuiditas haruslah ditingkatkan sedapat mungkin untuk mengurangi risiko yang terkait dengan perdagangan obligasi. Untuk mengetahui seberapa besar tingkat likuiditas di pasar obligasi maka perlu dilakukan pengukuran dari faktor mikrostruktur dengan pendekatan empat dimensi likuiditas dan faktor makrostruktur.

1. Pengukuran Likuiditas Obligasi Ditinjau dari Faktor Mikrostrukur.

Pengukuran likuiditas obligasi dimaksudkan untuk mengetahui seberapa likuid perdagangan obligasi di pasar modal Indonesia dari faktor mikrostruktur. Dalam melakukan pengukuran ini dilakukan dengan empat dimensi likuiditas berdasarkan konsep Larry dan Harris dalam bukunya Trading & Exchanges: Market  Microstructure for Practitioners (2003). Empat dimensi pengukuran tersebut yaitu :

a.       Immediacy

Immediacy atau kesegeraan adalah seberapa cepat kita dapat melakukan transaksi dalam pasar modal. Semakin cepat kita dapat bertransaksi Efek setiap kali kita menginginkannya maka semakin likuid pasar modal tersebut. Jika terjadi hal yang sebaliknya maka pasar modal tersebut semakin tidak likuid. Untuk menilai immediacy di pasar modal kita, terlebih dahulu kita memahami proses jual/beli obligasi di BEI. Proses jual beli (trading) obligasi di BEI menggunakan sistem yang bernama FITS (Fixed Income Trading System). Fixed Income Trading System (FITS) adalah sarana perdagangan obligasi dan sukuk yang disediakan oleh Bursa Efek Indonesia. Obligasi dan Sukuk yang dapat ditransaksikan melalui sistem FITS ini adalah Obligasi dan Sukuk yang dicatatkan di Bursa Efek Indonesia.

Mekanisme perdagangan Obligasi Dan Sukuk melalui sistem FITS merupakan transaksi yang terintergrasi antara sistem perdagangan, kliring dan penyelesaian, seperti halnya dalam bagan di atas ada tiga mekanisme yang berbeda yaitu : perdagangan, kliring dan penyelesaian. Kegiatan perdagangan Obligasi dan Sukuk melalui sistem FITS ini didukung oleh peraturan perdagangan yang dibuat oleh BEI dengan persetujuan Bapepam&LK, salah satu yang diatur adalah Satuan Perdagangan (Lot Size), dimana satuan perdagangan (Lot Size) adalah 1 Lot sama dengan nilai lima juta rupiah (1 Lot = 5 Juta) hal ini didasarkan dalam rangka pemerataan investor agar investor individu dapat memiliki Obligasi ataupun SUKUK yang diterbitkan baik oleh Perusahaan Swasta Nasional maupun oleh Negara. Sistem FITS menggunakan metode remote acsess dari masing-masing kantor Anggota Bursa, sehingga AB tersebut dapat memberikan pelayanan order (Jual ataupun Beli) kepada para Nasabahnya secara efektif dan efisien. Perdagangan melalui sistem FITS terdiri dari dua papan perdagangan yaitu :

1)     Pasar Reguler Outright

Merupakan mekanisme perdagangan secara lelang berkesinambungan secara anonym (anonymous continuous auction) dengan  metode pembentukan harga yang didasarkan atas prioritas harga dan waktu (price and time priority).

2)     Pasar Negosiasi

Merupakan fasilitas yang memungkinkan para Anggota Bursa melakukan pelaporan hasil kesepakatan transaksi yang telah terjadi sesama Anggota Bursa atau dengan pihak lain

Untuk lebih jelasnya sistem perdagangan dengan FITS dapat dijelaskan pada gambar berikut :

Sedangkan untuk proses penyelesaian transaksi dilaksanakan ketika transaksi terjadi, pengiriman dan pembayaran harus diselesaikan melalui Perusahaan Kliring dan Penjaminan Efek Indonesia (PT KPEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (PT KSEI). Waktu penyelesaian transaksinya adalah sebagai berikut :

1)     Transaksi reguler untuk obligasi diselesaikan pada hari bursa kedua (T +2) setelah transaksi dan harus dijamin oleh KPEI.

2)     Pasar Negosiasi untuk obligasi tersebut diselesaikan pada hari pertama sampai dengan tujuh hari bursa (T +1 sampai T +7) setelah transaksi dan harus juga dijamin oleh KPEI.

Untuk lebih jelasnya, proses penyelesaian transaksi baik dari transaksi regular dan pasar negosoasi dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Dari transaksi regular waktu penyelesaian transaksi T+2 artinya bahwa apabila kita melakukan tansaksi hari ini , maka hak-hak kita akan diberikan pada dua hari bursa, sehingga total waktu yang diperlukan untuk transaksi jual/beli efek adalah dua hari. Penulis menilai immediacy rentang waktu dua hari tersebut masih kurang.

b.       Width

Width atau keluasan adalah aspek likuiditas dari segi biaya-biaya yang harus dikeluarkan seiring dengan transaksi di pasar modal. Obligasi yang diperdagangkan di pasar modal secara sederhana memiliki beberapa macam biaya transaksi yakni :

1)     Rp 20.000 per transaksi untuk nilai transaksi Rp 500 juta atau kurang di pasar reguler.

2)     0,005% per transaksi untuk nilai transaksi antara Rp 500 juta dan Rp 10 miliar di pasar reguler.

3)     0,00375% per transaksi untuk nilai transaksi lebih dari Rp 10 miliar di pasar reguler.

4)     Rp 35.000 per transaksi untuk nilai transaksi Rp 500 juta atau kurang di pasar negosiasi.

5)     0,0075% per transaksi untuk nilai transaksi antara Rp 500 juta dan Rp 10 miliar pada negosiasi pasar.

6)     0,005% per transaksi untuk nilai transaksi lebih dari Rp 10 miliar di pasar negosiasi.

Sedangkan besarnya Pajak Penghasilan untuk bunga atau diskonto obligasi menurut PP No. 16 tahun 2009 yaitu :

1)     Bunga dari obligasi dengan kupon sebesar:

a)     15% (lima belas persen) bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap; dan;

b)     20% (dua puluh persen) atau sesuai dengan tariff berdasarkan persetujuan penghindaran pajak berganda bagi Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap, dari jumlah bruto bunga sesuai dengan masa kepemilikan Obligasi;

2)     Diskonto dari Obligasi dengan kupon sebesar:

a)     15% (lima belas persen) bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap; dan;

b)     20% (dua puluh persen) atau sesuai dengan tariff berdasarkan persetujuan penghindaran pajak berganda bagi Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap,

Dari selisih lebih harga jual atau nilai nominal di atas harga perolehan Obligasi, tidak termasuk bunga berjalan;

3)     Diskonto dari Obligasi tanpa bunga sebesar:

a)     15% (lima belas persen) bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap; dan;

b)     20% (dua puluh persen) atau sesuai dengan tariff berdasarkan persetujuan penghindaran pajak berganda bagi Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap,

Dari selisih lebih harga jual atau nilai nominal di atas harga perolehan Obligasi.

Semakin kecil biaya transaksi di pasar modal maka semakin likuid pasar modal tersebut. Pada perdagangan obligasi baik di pasar negosiasi mapun di pasar regular biaya transaksinya relatif kecil prosentasenya (kurang dari 1%) terhadap nilai transaksi, bandingkan misalnya dengan biaya transaksi investasi di bidang properti (PPN 10%, BPHTB 5%, dan lain-lain), namun pajak atas transaksi apabila ada capital gainnya cukup besar yaitu 15% – 20% , dibandingkan dengan saham yang hanya 0,1%, sehingga penulis menilai width-nya cukup kurang bagus.

c.       Depth

Depth atau kedalaman adalah aspek likuiditas ditinjau dari banyaknya order jual (penawaran) dan order beli (permintaan) yang ada di pasar modal. Dengan banyaknya order jual maupun order beli, pelaku pasar dapat melakukan penjualan maupun pembelian tanpa mempengaruhi harga pasar. Dengan demikian, banyaknya order jual dan order beli berbanding lurus dengan likuiditas pasar modal.

Selama periode Januari – Desember 2009 frekuensi transaksi obligasi korporasi menurun sebesar 20% dari 12.221 kali di tahun 2008 menjadi 9.805 kali pada tahun 2009, sedangkan volume transaksi rata-rata harian menurun 26% dari Rp 216,96 juta per hari pada periode Januari – Desember 2008 menjadi Rp 160,59 juta per hari pada tahun yang sama periode 2009. Sedangkan untuk obligasi pemerintah frekuensi transaksinya mencapai 52.428 kali atau meningkat 6% dari tahun lalu yang frekuensi perdagangannya sebanyak 49.632 kali. Sedangkan rata-rata volume transaksi harian mengalami penurunan 15% dari Rp 3,890.47 miliar per hari selama periode Januari sampai dengan Desember 2008 menjadi Rp 3,320.87 miliar per hari pada periode yang sama tahun 2009. Meskipun frekuensi transaksi pada obligasi pemerintah mengalami kenaikan, namun dari volume transaksinya mengalami penurunan. Berdasarkan data tersebut dapat kita lihat bahwa depth obligasi korporasi dan obligasi pemerintah mengalami penurunan pada tahun 2009.

d.       Resiliency

Resiliency atau kelembaman adalah seberapa cepat harga Efek dapat kembali ke tingkat sebelumnya jika terjadi ketidakseimbangan penjualan dan pembelian dalam jumlah besar. Likuiditas pasar modal yang likuid ditunjukkan dengan semakin cepatnya harga suatu Efek kembali ke harga wajar seperti sebelumnya.

Dalam pasar yang sangat likuid, maka harga akan segera kembali ke tingkat efisiensi setelah terjadi lompatan harga yang tidak mempengaruhi harga obligasi. Namun, komponen ini sangat sulit diukur mengingat arus informasi yang kontinyu masuk ke dalam pasar sehingga sulit untuk mengetahui kecepatan lentingan harga sekuritas untuk kembali ke harga efisien khusus untuk informasi tertentu. Dengan kata lain, sangat sulit untuk mengontrol faktor-faktor lain yang masuk ke dalam pasar. Karena sulitnya mengetahui tingkat resiliency dari obligasi korporasi, maka untuk melihat tingkat resiliency bisa digunakan dengan melihat rating kredit yang dikeluarkan oleh lembaga pemeringkat internasional seperti Fitch Rating, Moody’s dan Standard and Poor’s. Rating yang dikeluarkan oleh lembaga tersebut mencerminkan bagaimana peringkat kredit suatu negara atas surat utang global yang diterbitkan dalam mata uang asing atau yang berdenominasi rupiah. Peringkat kredit ini bisa menjadi patokan bagaimana tingkat resiliency utang secara keseluruhan baik dari korporasi maupun pemerintah Indonesia dalam periode tahun 2009.

Fitch rating pada akhir tahun 2009 mengupgrade posisi utang indonesia ke level BB+, satu tingkat di bawah level aman untuk investasi (investment grade). Hal ini sejalan dengan pengelolaan utang yang baik, dengan target pertumbuhan PDB sebesar 4,4% untuk tahun 2009, yang akan membuat Indonesia menjadi salah satu pemain di antara peserta G20. Rating terbaru dari Fitch ini menjadi yang paling optimis tentang Indonesia di antara lembaga-lembaga rating besar . Moody’s memposisikan  Indonesia pada level Ba2 (dua takik di bawah tingkat investasi), dan Standard and Poor’s angka pada level BB-(tiga titik di bawah tingkat investasi, tapi dengan pandangan yang positif). Peningkatan peringkat tersebut penting artinya bagi Indonesia karena akan berdampak pada turunnya biaya penerbitan surat utang. Itu artinya, isu yang sama akan berdampak positif terhadap penerbit obligasi terbesar di Indonesia, yakni pemerintah, karena ongkos penerbitan surat berharga negara (SBN) dalam bentuk imbal hasil dan kupon akan semakin ringan.

Peringkat yang dinaikkan menjadi BB plus adalah level untuk surat utang global (diterbitkan dalam valuta asing) dan yang berdenominasi rupiah. Kenaikan ini menunjukkan bahwa peringkat terhadap adanya peluang gagal bayar atas obligasi dari Indonesia berada di posisi stabil. Dengan demikian penulis menilai resiliency pasar obligasi Indonesia sudah cukup baik.

2. Likuiditas Obligasi Ditinjau dari Faktor Makrostruktur.

Dari faktor makrostrukur, perdagangan obligasi di pasar modal Indonesia sangat dipengaruhi oleh bagaimana kebijakan pemerintah baik dari sisi fiskal dan moneter. Kondisi yang terjadi pada tahun 2009 adalah adanya penurunan ekonomi global secara signifikan yang menyebabkan volume perdagangan dunia mengalami kontraksi. Setelah mengalami ekspansi rata-rata 8,1 persen selama lima tahun terakhir, pada tahun 2008 pertumbuhan volume perdagangan dunia menurun tajam menjadi 4,1 persen. Indikasi merosotnya volume perdagangan dunia ini antara lain tercermin dari penurunan tajam pada Baltic Dry Index yang merupakan barometer volume perdagangan dunia.

Bagi Indonesia dampak negatif yang langsung dirasakan adalah penurunan atau perlambatan pertumbuhan perdagangan dan investasi. Transmisi dampak krisis ekonomi global ke perekonomian Indonesia masuk melalui dua jalur, yakni jalur finansial (financial channel) dan jalur perdagangan (trade channel). Dampak krisis melalui jalur finansial dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Dampak secara langsung terjadi apabila suatu bank atau institusi keuangan di Indonesia membeli aset-aset yang bermasalah (toxic assets) dari perusahaan penerbit yang mengalami kesulitan likuiditas di luar negeri. Dampak lainnya adalah terjadinya penarikan dana dari Indonesia oleh investor asing yang mengalami kesulitan likuiditas (deleveraging). Selain itu, juga bisa terjadi melalui aksi pemindahan portofolio investasi berisiko tinggi ke risiko lebih rendah (flight to quality). Sementara dampak tidak langsung jalur finansial terjadi melalui munculnya hambatan-hambatan terhadap ketersediaan pembiayaan ekonomi. Dampak melalui jalur perdagangan muncul melalui melemahnya kinerja ekspor impor yang pada gilirannya berpengaruh pada sektor riil dan berpotensi memunculkan risiko kredit bagi perbankan. Hal tersebut juga berpotensi memberikan tekanan pada neraca pembayaran Indonesia (NPI).

Tingginya suku bunga SBI berpengaruh terhadap rendahnya likuiditas di pasar obligasi. Pada awal 2009 tingkat SBI mencapai 10,6 %, yang mengakibatkan lesunya perdagangan di pasar obligasi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa peranan makrostruktur memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap likuiditas perdagangan di pasar obligasi Indonesia.

B. Upaya Meningkatkan Likuiditas Pasar Obligasi

Atas dasar penilaian tingkat likuiditas obligasi dari faktor mikrostruktur dan faktor makrostruktur maka upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan tingkat likuiditas obligasi di pasar modal Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Meningkatkan Likuiditas Obligasi dari Faktor Mikrostruktur.

Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan likuiditas di pasar obligasi dari factor mikrostruktur adalah sebagai berikut :

a)     Meningkatkan infrastruktur dan sistem perdagangan di bursa efek

Dengan proses penyelesaian yang tergolong masih lama maka peningkatan kelancaran dan kecepatan transaksi perlu terus dilakukan untuk meningkatkan immediacy transaksi jual/beli efek. Tentunya diperlukan koordinasi pihak-pihak terlibat (broker, BEI, LKP, LPP, dsb) dalam melakukan upaya ini. Hal ini juga harus diikuti dengan pengembangan infrastruktur yang lebih baik, seperti pengembangan sistem tekonologi informasi, Jakarta Automatic Trading System (JATS) Next Generation.

b)     Memberikan insentif fiskal bagi transaksi obligasi

Pemerintah menetapkan pajak sebesar 15 persen untuk kupon atau bunga obligasi. Sedangkan besaran pajak yang dikenakan untuk transaksi atau capital gain, baik di bursa maupun OTC, sebesar 10-15 persen. Dengan tingginya pajak atas capital gain untuk obligasi tersebut, pemerintah hendaknya memberikan insentif dengan mengurangi pajak atas transaksi capital gain obligasi tersebut. Insentif pajak dimaksudkan untuk menggairahkan transaksi obligasi di bursa. Selama ini transaksi obligasi lebih marak dilakukan di luar bursa atau melalui pasar over the counter (OTC). Adapun pajak transaksi yang dikenakan baik di bursa maupun di OTC sama. Sehingga jika diberikan insentif pajak diharapkan transaksi obligasi di bursa bisa ramai. Insentif perpajakan diperlukan untuk merangsang investor melakukan transaksi obligasi di bursa. Semakin banyak jumlah emiten yang ada di bursa akan meningkatkan likuiditas dari sisi depth.

c)      Meningkatkan kualitas dan keterbukaan informasi.

Likuiditas merupakan cerminan kepercayaan investor terhadap pasar modal. Terkait dengan hal tersebut, kualitas dan keterbukaan informasi merupakan faktor utama. Dengan peningkatan kualitas dan keterbukaan informasi diharapkan bentuk pasar modal Indonesia lebih efisien (dari weak form meningkat jadi semi strong/strong), sehingga minat investor untuk berinvestasi di Indonesia lebih tinggi. Adanya keterbukaan informasi akan mengurangi risiko yang timbul ketika investor mengambil keputusan. Bapepam-LK dan BEI dapat berperan dengan menegakkan aturan tentang keterbukaan informasi yang sudah ada tersebut. Keterbukaan informasi ini akan menguatkan komponen depth dan resiliency.

d)     Penurunan biaya transaksi pasar modal

Bursa efek, perusahaan efek, manajer investasi, profesi penunjang dapat membantu meningkatkan likuiditas dengan menurunkan biaya administrasi sehubungan dengan transaksi pasar modal. Biaya administrasi transaksi pasar modal adalah salah satu pertimbangan yang digunakan oleh investor untuk tidak melakukan transaksi sesering mungkin. Secara komparatif terhadap sarana investasi lain, biaya transaksi pasar modal relatif rendah. Total biaya tidak mencapai 1% dari nilai transaksi (berdasarkan uraian di atas), bandingkan misalnya dengan investasi properti (BPHTB, PPh atas peralihan aset, dan lain-lainnya). Apabila masih mungkin diturunkan, pengurangan biaya transaksi bagaimanapun akan meningkatkan frekuensi transaksi. Dengan demikian hal ini akan meningkatkan likuiditas pasar modal melalui dimensi width, dan kemudian berpengaruh ke dimensi depth.

e)     Mendorong emisi surat utang dengan profil tenor obligasi yang beragam dari jangka pendek hingga panjang.

Pemerintah dapat ikut berperan aktif dalam meningkatkan likuiditas pasar modal yaitu dengan mendorong penerbitan emisi surat utang dengan profil tenor obligasi yang beragam dari jangka pendek hingga panjang. Bagi pemerintah, penerbitan obligasi di dalam negeri pada saat ini cukup menguntungkan mengingat imbal hasil obligasi beberapa tahun terakhir semakin rendah, itu artinya biaya utang semakin rendah. Kapasitas pasar juga semakin besar sehingga kebutuhan pembiayaan APBN sebagian besar dapat dipenuhi dari dalam negeri.

Selain itu peringkat utang Indonesia ditingkatkan dari level BB menjadi BB plus oleh lembaga keuangan pemeringkat internasional  Fitch Rating juga akan berdampak penting bagi Indonesia. karena akan berdampak pada turunnya biaya penerbitan surat utang. Ongkos penerbitan surat berharga negara dalam bentuk imbal hasil dan kupon akan semakin ringan. Pemeringkatan ini merefleksikan bahwa Indonesia mulai pulih dari tekanan krisis keuangan global yang sangat parah pada tahun 2008-2009. Itu didukung oleh peningkatan yang berkelanjutan pada pengelolaan keuangan publik di Indonesia, hal-hal ini perlu digalakkan agar pasar obligasi di tanah air semakin bergairah. Dengan penerbitan emisi surat utang dengan profil tenor obligasi yang beragam dari jangka pendek hingga panjang akan meningkatkan depth transaksi pasar obligasi.

f)       Otoritas bursa juga bisa mendorong adanya market maker dari kalangan sekuritas, perbankan maupun investor institusi lainnya untuk membuat skema tawar-beli (bid-offer)

Peranan market maker di dalam transaksi keuangan dunia dirasakan semakin penting terutama dalam rangka menciptakan stabilisasi harga produk-produk keuangan dan juga untuk menjaga likuiditas dari produk-produk itu sendiri. Di berbagai pasar keuangan, baik pasar uang, pasar berjangka (futures and opsis), pasar berjangka komodity, maupun pasar modal, peranan market maker dirasakan semakin penting dan diakomodasi dalam peraturan perundang-undangan yang terkait dengan aktivitas perdagangan produk-produk keuangan. Di pasar modal sendiri, peranan market maker dalam perdagangan saham, obligasi ataupun derivative sudah dirasakan oleh para pelaku pasar modal, terutama di negara-negara yang pasar modalnya sudah maju dan modern seperti Amerika Serikat, Austria dan negara-negara Eropa lainnya. Namun dalam perkembangannya market maker juga diperkenalkan dan kegiatannya diakomodir dalam peraturan perundang-undangan di pasar modalnya. Negara-negara seperti Thailand, Hong Kong, Jepang dan lain-lain juga sudah mengatur mengenai keberadaan market maker di pasar modal mereka. Perlunya pasar modal mengembangkan market maker adalah dalam rangka menjaga stabilitas pasar dan menciptakan likuiditas pasar modal dalam persaingan global yang semakin ketat. Dengan mendorong market maker diharapkan dapat meningkatkan depth dan immediacy dari transaksi di pasar obligasi.

g)     Sosialisasi pasar modal

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia berinvestasi dalam efek belum merupakan suatu budaya. Tidak seperti menyimpan uang di bank yang telah berhasil disosialisasikan. Penyelenggaraan pendidikan atau sosialisasi mengenai pasar modal dan cara-cara berinvestasi kepada masyarakat perlu terus dilakukan sehingga meningkatkan minat berinvestasi masyarakat. Dengan demikian upaya ini akan secara tidak langsung meningkatkan likuiditas pasar modal dari dimensi depth dan resiliency. Tidak hanya untuk masyarakat Indonesia, sosialisasi (promosi) perlu dilakukan ke luar negeri untuk menjaring investor, misalnya pemodal di daerah Timur Tengah merupakan pasar potensial untuk produk syariah pasar modal kita.

2. Meningkatkan Likuiditas Obligasi dari Faktor Makrostruktur.

Upaya meningkatkan likuiditas obligasi dari faktor makrostruktur dapat dilakukan antara lain dengan :

a)     Menjaga pertumbuhan ekonomi yang positif dengan tetap menjaga stabilitas ekonomi.

Untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dengan menjaga stabilitas ekonomi perlu adanya pengendalian inflasi dan nilai tukar untuk menciptakan kondisi yang kondusif. Perkembangan laju inflasi tahunan pada bulan Juni 2009 sebesar 3,65 persen (yoy), sedangkan laju inflasi tahun kalender dari Januari hingga Juni 2009 mencapai 0,21 persen (ytd). Dengan memperhatikan perkembangan inflasi sampai dengan bulan Juni dan membaiknya ekspektasi inflasi pada bulan-bulan selanjutnya, inflasi akhir tahun 2009 diperkirakan mencapai 4,5 persen.

Adapun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang periode Januari–Juni 2009 menunjukkan kecenderungan menguat. Penguatan tersebut didorong oleh kembali meningkatnya arus modal masuk antara lain dari pasar saham dan obligasi. Rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada periode tersebut mencapai Rp11.082 per dolar AS. Penguatan tersebut diperkirakan terus berlanjut sehingga rata-rata selama tahun 2009 diharapkan dapat mencapai Rp10.600 per dolar AS. Rendahnya laju inflasi dan terjaganya pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan menjadi faktor penguat pulihnya kondisi ekonomi nasional. Kondisi ini turut memberi ruang untuk penurunan suku bunga.

b)     Kebijakan penurunan tingkat suku bunga.

Selama tujuh bulan pertama tahun 2009, Bank Indonesia telah beberapa kali menurunkan BI Rate hingga berada di level 6,75 persen pada awal Juli 2009. Sejalan dengan itu, SBI 3 bulan juga mengalami penurunan dari 10,6 persen pada bulan Januari 2009 menjadi 7,01 persen pada awal bulan Juli 2009. Secara rata-rata SBI 3 bulan dalam tujuh bulan pertama mencapai 8,31 persen atau sedikit lebih rendah bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2008 sebesar 8,4 persen.

Kebijakan penurunan suku bunga ini menjadi sinyal bagi perbankan untuk meningkatkan peran intermediasinya ke sektor riil dengan menurunkan suku bunga kredit. Hingga akhir tahun 2009, rata-rata SBI 3 bulan diperkirakan mencapai 7,5 persen. Dengan turunnya tingkat suku bunga diharapkan likuiditas perdagangan di pasar obligasi Indonesia dapat lebih meningkat.