Tag

, , , , ,


Dan sejarah akan menulis: di sana di antara benua Asia dan Australia, antara Lautan Teduh dan Lautan Indonesia, adalah hidup satu bangsa yang mula-mula mencoba untuk kembali hidup sebagai bangsa, tetapi akhirnya kembali menjadi satu kuli di antara bangsa-bangsa kembali menjadi : een natie van koelies, en een kolie onder de naties. Maha Besarlah Tuhan yang membuat kita sadar kembali sebelum kasip. [Pidato HUT Proklamasi, 1963]

Dari potongan pidato Bung Karno tersebut dapat kita renungi kondisi kita saat ini. Sungguh sangat miris melihat kondisi bangsa yang masih saja menjadi kuli, baik di negeri sendiri maupun di negeri orang. Betapa tidak sedihnya hati kita, di negeri sendiri kita mengimpor tenaga-tenaga ahli, pucuk-pucuk pimpinan perusahaan serta konsultan-konsultan semua dari asing. Sedangkan kita rakyat pribumi hanya menjadi penonton di negeri kita sendiri. Sebagian lain mencari nafkah di negeri orang dan menjadi “Pahlawan Devisa” , sebenarnya lebih tepat dibilang babu (TKI).

Pekerja asing di negeri kita rata-rata berpenghasilan 50 juta keatas, sedangkan pekerja kita tidak jauh beda, hanya beda nol satu saja (sekitar 5 jutaan untuk TKI, itupun kalo dibayar). Pekerja asing mendapat fasilitas mewah di negara kita (rumah mewah lengkap dengan fasilitas spa, kolam renang, serta yang lainnya), semua serba lengkap. Pekerja kita di luar negeri juga tidak kalah fasilitasnya (mandi air panas mendidih langsung dari kompor untuk disiramkan kewajah), ada juga fasilitas mandi air keras, selain itu juga tidak usah berfikir untuk setrika karena udah disetrika langsung ke punggung atau tangan…mak nyos.

Itulah ironisnya negeri kita dari jaman penjajahan sampai sekarang sudah merdeka masih saja menjadi kuli, masih saja menjadi babu. Rupanya sejarah akan selalu berulang, dari negeri jajahan setelah berusaha mengusir kolonialisme sekarang jatuh lagi menjadi jajahan. Hanya saja kolonialisme dan imperialisme telah berganti baju, dari dahulu yang menggunakan kekuatan persenjataan dan peperangan sekarang telah berubah menjadi penjajahan ekonomi dan budaya.

Dari segi ekonomi betapa tidak, bahwa negara kita sudah benar-benar menjadi negara kuli dari negara kapitalis besar. Sumber daya alam kita di gerogoti oleh negara-negara kapitalis, dan semuanya legal dengan cover “kontrak kerjasama”. Padahal negara kita banyak dirugikan dari kontrak-kontrak tersebut. Dimana para insinyur kita??apakah kita tidak mampu mengolah sendiri??Bahkan dahulu ketika perusahaan asing mau masuk ke Indonesia, Bung Karno tetap bersikukuh dengan prinsipnya berdikari(berdiri diatas kaki sendiri) dan berkata bahwa “nanti insinyur-insinyur kita yang akan mengolahnya”. Tapi kenyataannya sekarang kita hanya menjadi kuli di negeri sendiri. Sejarah sepertinya akan terus berulang, bahwa pada jaman kerajaan dahulu, ada saja raja-raja jawa yang memikirkan perutnya sendiri dan berkomplot dengan penjajah (Belanda) pada saat itu. Sekarang para pengkhianat bangsa juga masih bertebaran di bumi pertiwi, dan lebih licin daripada belut, karena semuanya dalam kekuatan apa yang disebut “kartel politik”. Semuanya menjadi legal dan sah, dengan perhitungan angka-angka statistik yang bisa dengan mudah dimanipulasi seolah-olah pertumbuhan ekonomi bagus padahal kenyataan yang terjadi di lapangan tidaklah sama dengan angka-angka tersebut. Rakyat miskin tetap menjadi miskin bahkan bisa dikatakan kemiskinan absolut.

Penjajahan gaya baru atau NeoLiberalisme atau dulu biasa disebut oleh Bung Karno sebagai Nekolim ini telah merusak sendi-sendi bangsa. Dengan berbagi tipu daya, kapitalis-kapitalis barat telah merusak tatanan ekonomi gotong-royong yang berdasarkan kemandirian yang dibangun oleh para pendiri bangsa. Otonomi yang digembor-gemborkan akan memberikan dampak yang lebih positif disodorkan sebagai sebuah sistem yang lebih baik ternyata hanya menjadi lahan korupsi. Hal ini sudah disadari oleh para kapitalis, karena mereka tahu bahwa SDM didaerah itu belum siap. Dengan dalih untuk pembangunan infrastruktur maka pinjaman-pinjaman luar negeri pun digelontorkan, dan akhirnya kembali lagi menjadi ajang korupsi.

Dari sisi budayapun kita telah dijajah oleh bangsa asing. Kita bangga memakai pakaian yang lebih layak jika itu disebut telanjang. Kita dijejali dengan budaya-budaya barat yang sesungguhnya bertujuan merobohkan dan membodohkan. Budaya pornografi, budaya kekerasan serta budaya tidak punya rasa malu. Bahkan ketika heboh video porno seorang artis beredar di masyarakat, masih ada saja orang yang beramai-ramai mendukung dan mendoakannya. Entah dimana lagi hati nurani kita sebagi bangsa Indonesia yang beradab, yang katanya bangsa yang religious.

Sudah saatnya untuk kita menyadari hal tersebut. Sudah saatnya kita lawan penjajahan asing di negeri kita. Sudah saatnya kita kelola sumber daya alam kita yang dikeruk oleh asing. Sudah saatnya kita kembali kepada budaya ketimuran kita. Nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing di negeri tercinta sekarang juga!! Kita yakin bahwa kita bisa mengelolannya. Kita tidak perlu takut dengan embargo ekonomi, karena sebenarnya tanah kita adalah tanah yang diberkati dengan kekayaan yang melimpah, laut kita diberikan kekayaan yang melimpah didalamnya. Kita bisa jika kita percaya, rakyat kita telah banyak yang pandai, dokter-dokter, insinyur, ekonom, semuanya bidang kita punya ahlinya. Jadi kenapa kita harus mau menjadi alas kaki kapitalis asing??