Tag

, , , ,


Saat saya mempelajari segala sesuatu yang ada hubungannya dengan matematik dan itung-itungan, kenapa saya mumet sekali ya…Ada apa dengan kemampuan matematik saya?? Ada apa dengan otak saya. Kemudian saya iseng-iseng mencari tahu tentang fungsi otak kita..dari berbagai sumber yang telah saya cari tahu kurang lebih seperti inilah info yang saya dapat.

Otak besar atau serebum yang terletak di atas batang otak merupakan bagian terbesar dari otak manusia. Bagian ini bertanggung jawab atas semua kegiatan intelektual, seperti kemampuan berpikir, menalarkan, mengingat, membayangkan, serta merencanakan masa depan.

Otak besar dibagi menjadi belahan (hemisfer) kiri dan belahan kanan. Masing-masing sisi mempunyai fungsi yang berbeda. Otak kiri berfungsi dalam hal-hal yang berhubungan dengan logika, rasio, kemampuan menulis dan membaca, serta merupakan pusat matematika. Bagian otak ini merupakan pengendaliintelligence quotient (IQ). Daya ingat otak bagian ini juga bersifat jangka pendek. (Membaca saja males apalagi menulis, tambah matematika….berarti ini nggak dominan nih di otak saya)

Sementara itu otak kanan berfungsi dalam perkembangan emotional quotient (EQ). Misalnya sosialisasi, komunikasi, interaksi dengan manusia lain serta pengendalian emosi. Pada otak kanan ini pula terletak kemampuan intuitif, kemampuan merasakan, memadukan, dan ekspresi tubuh, seperti menyanyi, menari, dan melukis. (Menari???Melukis???Wew…nggambar ayam aja jadinya bebek…Berarti ini juga nggak dominan nih). Hehehe…ternyata emang nggak punya otak…waduh.

Belahan otak mana yang lebih baik, tidak mudah untuk dijawab sebab masing-masing sisi mempunyai fungsi yang berbeda. Akan tetapi, menurut para ahli, sebagian besar orang di dunia hidup dengan lebih mengandalkan otak kirinya.

Para pengguna otak kiri pada umumnya lebih kuat dalam matematika. Mereka juga cenderung memiliki telinga kanan lebih tajam, kaki dan tangan kanannya juga lebih tajam daripada tangan dan kaki kirinya. Demikian juga sebaliknya dengan pengguna otak kanan. (ingat telinga yang lebih tajam bukan lebih lebar lho…kalo lebar sebelah kan aneh,,,kalo lebar dua-duanya jadi kuping gajah deh nanti…hehe)

Bagaimana mengetahui seseorang menggunakan sisi otak bagian mana yang lebih dominan juga bisa diintip dari penampilan mejanya. Bila seseorang dominan menggunakan otak kanan, ciri meja kerjanya cenderung berantakan. Meski begitu dia mengetahui dengan pasti di mana letak barang-barang yang dicari serta apa yang saat itu sedang dikerjakan. Sebab, mereka yang lebih banyak menggunakan otak kanan, proses berpikirnya paralel, sedangkan pengguna otak kiri cara berpikirnya serial. (Tapi kalo dilihat dari mejanya yang selalu berantakan berarti saya memang dominan menggunakan otak kanan…hehe. Trus pekerjaan yang cocok buat saya adalah…)

Masih berkaitan dengan kemampuan matematika, ternyata hasil penelitian terhadap 1,286,350 orang oleh  Janet Hyde seorang professor of psychology and women’s studies di University of Wisconsin-Madison. Menunjukkan bahwa , perbedaan kemampuan antara pria dan wanita itu sangat tipis bahkan bisa dikatakan meaningless (artine apa itu).

Penelitian ini dilakukan antara tahun 1990 dan 2007, dari anak sekolah, kuliahan dan pekerja/pegawai.

Dari hasil tersebut berarti bahwa sebenarnya wanita bisa melakukan banyak hal di bidang sciences dan engineering. Akan tetapi stereotip yang berkembang di masyarakat bahwa wanita tidak boleh atau sebaiknya jangan berurusan dengan sciences dan engineering karena wanita lemah dalam matematik. Hal inilah yang mempengaruhi dari kemampuan matematik dari wanita tersebut, padahal secara ilmiah kemampuan antara pria dan wanita dibidang matematik adalah sama. Hal tersebut biasa disebut sebagai ‘stereotype threat’ yang bisa menghambat kemampuan wanita dalam bidang matematik.

Lalu bagaimana cara meningkatkan kemampuan matematik kita??Ada sebuah study yang mempelajari bahwa ada keterkaitan yang erat antara mendongeng atau bercerita dengan kemampuan matematik. Seperti ditulis di science News Online “Good Stories, Good Math”.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak usia 3 s/d 4 tahun yang mampu bercerita dengan baik dan “switch perspective” akan memiliki kemampuan matematik yang baik juga dalam 2 tahun berikutnya. Contoh dari switch perspective itu misalnya “Pelayan itu marah ketika seekor kodok melompat masuk ke dalam mangkuk sop.”

Dari kalimat ini seorang anak mengolah berbagi/banyak hubungan, secara berurutan menceritakan bagaimana perasaan pelayan dan apa yang dilakukan oleh kodok. Mungkin kita tidak tahu bagaimana hubungan antara kemampuan bercerita itu dengan kemampuan matematik. Simpelnya adalah bahwa

“…that language arose when humans acquired the ability to visualize complex relationships among different objects when the objects themselves are not in view. The ability to do mathematics arises from that same ability to manipulate abstractions.”

Jadi dalam berbahasa itu membutuhkan kemampuan untuk memvisualisasikan hubungan yang kompleks antara obyek yang berbeda dimana obyek tersebut tidak terlihat. Kemampuan dalam matematik muncul dari hal yang serupa yaitu untuk memanipulasi abstraksi. Kurang lebih seperti itu….jadi kalo punya anak mau pinter matematik, dilatih untuk bercerita saja, pasti jadi pinter…(pinter bercerita)..hehe…Saya juga akan latihan bercerita dulu (latihan ndongeng) biar kemampuan matematik saya meningkat.