Tag

, , , ,


Charles Ponzi (March 3, 1882–January 18, 1949)...

Image via Wikipedia

Awal saya mengetahui Lihan diawali pada bulan juni tahun 2007.  Cerita ini dimulai ketika  saya ditawari investasi oleh seorang kawan di Banjarmasin. Melalui kawan tersebut saya dikirimi proposal dan prospek bisnis dari usaha Lihan, yaitu berlian. Kebetulan kawan saya termasuk seorang pengelola dari bisnis investasi berlian tersebut. Melalui proposal yang dikirim via email tersebut saya mulai mencari tahu siapa itu sosok yang bernama Lihan dan perusahaan yang bernama P.T. Tri Abadi Mandiri. Dari berita yang saya cari melalui internet serta berita-berita di media ternyata Lihan adalah seorang ustad dan juga pemilik sebuah pondok pesantren di Martapura, Banjarmasin. Karena cerita positif di media serta profil dari seorang pemuka agama maka saya memutuskan untuk ikut berinvestasi di bisnis Lihan. Dengan pengelolaan yang dikatakan berbasis syariah maka tidak ada sedikitpun rasa curiga pada Lihan. Bahkan pengelolaan bagi hasilpun harus dipotong untuk zakat, hal ini yang membuat saya berfikir bahwa ini benar-benar investasi yang bagus dan barokah.

Singkat cerita memasuki tengah semester kedua (tepatnya sekitar awal tahun 2008) investasi mulai sering terlambat dalam pembagian hasilnya, bahkan telah berkembang rumor bahwa terjadi kebangkrutan. Namun isu tersebut dapat ditepis dengan cairnya bagi hasil investasi. Akibatnya investor pun masih percaya dan masih menanamkan modalnya, termasuk saya. Tepat bulan September 2008 saat kontrak investasi telah berakhir, muncul rumor bahwa Lihan bangkrut. Pembayaran dan pengembalian modal saya pun menjadi mundur terus, dimulai dijanjikan awal Januari 2009 sampai akhirnya saat tulisan ini dibuat, yang terjadi adalah Lihan telah Bangkrut. Saat ini Lihan telah dipidana 6 tahun serta dinyatakan pailit. Hanya saja Nasib investor seperti saya hanya gigit jari saja. Menyesali keputusan investasi yang telah saya buat tanpa mempertimbangkan resiko. Sampai sekarang dari kabar terakhir, aset lihan telah disita oleh kurator dan akan dibagikan kepada investor. Perlu diketahui jumlah investor adalah 1000 an lebih dengan jumlah modal di Lihan lebih dari 800 Milyar. Melihat hal tersebut rasanya tipis sekali uang saya akan kembali…. :cry:

Rasanya pengen marah, emosi, sedih, ngamuk, tapi sama siapa. Pengen saya jotos itu Lihan, tapi saya kasihan..orangnya kecil sih, coba kalo gede pasti saya yang takut.😐

Setidaknya dari kasus yang telah dilakukan oleh Lihan dengan banyak korban termasuk saya ini, kita bisa memetik pelajaran yang sangat berharga.. :evil: Ada dua hal yang ingin saya bahas disini, yang pertama yaitu dari sisi Lihan ditinjau dari skema ponzi, serta yang kedua dari sisi korban seperti saya ditinjau dari perilaku investor (perilaku Konsumen).

Apa yang dilakukan oleh Lihan, itulah yang disebut dengan skema Ponzi. Apakah itu Skema Ponzi? Skema Ponzi merupakan sebuah istilah untuk praktek kotor dalam bisnis keuangan yang menjanjikan pemberian keuntungan berlipat ganda yang jauh lebih tinggi dari keuntungan bisnis riil bagi investor yang mau menyimpan dana investasinya lebih lama di perusahaan investasi seperti sekuritas, bank, asuransi ataupun investment banking. Para invesor umumnya tidak tahu dan tidak mau tahu darimana perusahaan membayar keuntungan yang dijanjikan.

Nama Ponzi diambil dari seorang penipu bernama Charles Ponzi yang tinggal di Boston, AS. Ponzi terkenal dengan penipuannya karena menawarkan investasi berupa transaksi spekulasi perangko AS terhadap perangko asing di era 1919-1920. Ponzi mendirikan ‘The Security Exchange Company’ pada 26 Desember 1919, yang menjanjikan investasi dengan balas jasa 40% dalam 90 hari. Padahal kala itu bunga bank pada saat itu hanya 5% per tahun. Tidak sampai satu tahun, diperkirakan sekitar 40,000 orang mempercayakan sekitar US$ 15 juta atau sekarang senilai US$ 140 juta dalam perusahaannya. Untung yang dijanjikan Ponzi ternyata hasil tambal sulam. Pada pertengahan Agustus 1920, audit oleh pemerintah terhadap usaha Ponzi menemukan bahwa Ponzi sudah bangkrut. Total aset yang dimilikinya sekitar US$ 1,6 juta, jauh di bawah nilai utangnya kepada investor.

Apa yang dilakukan oleh Lihan juga mengikuti skema tersebut, yaitu dengan bagi hasil yang diberikan kepada investor merupakan uang dari Investor yang baru. Akhirnya pada suatu titik dimana investor baru yang masuk sudah tidak bisa membayar imbal hasil yang dijanjikan, akhirnya meledaklah skema kebohongan tersebut. Dari berita-berita yang saya telusuri tentang Lihan, pada awalnya bisnisnya adalah benar berlian adanya. Namun karena buruknya manajemen dan pengelolaan dana Investor akhirnya Laba dari bisnis tidak bisa mencukupi imbal hasil yang telah dijanjikan. Pada akhirnya jalan singkat yang ditempuh oleh Lihan, yaitu dengan menggunakan skema Ponzi. Hal tersebut yang membuat Lihan makin terperosok dan akhirnya bangkrut. Skema Ponzi tidak selamanya merugikan Investor, karena bagi investor yang bergabung dari awal bisnis ini tentu akan untung, karena bagi hasilnya telah menutupi modalnya, akan tetapi bagi investor yang baru gabung tentu akan buntung dan babak belur.

Dari sisi korban (termasuk saya), apa yang telah dilakukan oleh para investor dengan memberikan kepercayaan atau membeli produk investasi lihan ini apabila kita lihat dari teori perilaku konsumen dipengaruhi oleh :

  1. Kekuatan Lingkungan yang mencakup : (a) Budaya, (b) sub-Budaya, (c) kelas sosial, (d) kelompok referensi, (e) keluarga, (f) faktor situasional, (g) nilai, norma, dan peranan sosial, (h) variabel pemasaran.
  2. Faktor Individual yang mencakup : (a) persepsi, (b) motif, (c) pengolahan informasi, (d) pembelajaran, (e) sikap dan keyakinan, (f) kepribadian, (g) pengalaman, dan (h) konsep diri.

Dari kedu faktor tersebut yang sangat berpengaruh menurut saya (yang membuat saya bisa menjadi korban) adalah faktor individual terutama persepsi dan keyakinan. Mungkin faktor ini juga yang menjadikan banyak korban tertipu oleh sosok Lihan. Bagaimana persepsi anda terhadap seorang ustad yang gemar bersedekah?? Tentu persepsi positif bukan. Hal inilah yang menjadikan kita lupa akan namanya resiko. Hal ini wajar terjadi apabila kita telah menaruh kepercayaan penuh pada sosok Lihan yang merupakan seorang ustad tersebut. Dan kepercayaan tersebut menjadi tanpa pemikiran yang logis. Bagaimana mungkin investasi menghasilkan bagi hasil sebesar 8% per bulan. Apabila kita melihat prinsip dalam Manajemen Keuangan, disebutkan bahwa “High Risk High Return”. Investasi dengan bagi hasil yang besar tentu akan mempunyai resiko yang besar pula. Namun semua ilmu tadi akan lenyap dan orang terkadang menjadi tidak berfikiran logis ketika yang berbicara adalah faktor “kepercayaan”.

Dari kasus tersebut maka hendaknya kita berhati-hati dan belajar dari kesalahan orang dalam berinvestasi (termasuk kesalahan saya). Dalam berinvestasi tetap gunakan logika kita dan jangan melupakan apa yang disebut Resiko. Semoga tidak ada lagi korban-korban  investasi fiktif, dengan dalih pengembalian yang berlipat, yang ujung-ujungnya adalah kebohongan belaka.

(ini dia penampakan ustad Lihan, yang gambar diatas itu gurunya yang bernama Pak Ponzi )