Tag

, , , ,


Reformasi telah membawa banyak perubahan positif bagi negara kita antara lain tumbuhnya iklim demokrasi serta kebebasan berpendapat. Dari yang sebelumnya dikekang sampai dengan diberikan kebebasan, walaupun cenderung kebablasan..hehe. Dari semua dampak positif dari reformasi di Indonesia, saya akan sedikit menyorot (koyo senter wae yo) mengenai “budaya instan”. Budaya serba instan tumbuh dari perkembangan kehidupan manusia, termasuk muncul dari reformasi yang ditunggangi oleh semangat materialisme. Materialisme mengukur segala keberhasilan dan aspek kehidupan dengan materi. Dengan hal tersebut masyarakat menjadi terjebak untuk mengejar materi sebesar-besarnya, sebanyak-banyaknya. Dan waktu telah menjadi uang (dalam arti yang sebenarnya) bagi mereka.

Apa yang ditimbulkan dari materialisme ini antara lain muncul semangat untuk melakukan segala sesuatu serba cepat, serba instan. Karena yang dikejar hanya materi tanpa mempertimbangkan nilai-nilai moral dan agama maka ada suatu hal yang dilupakan yaitu “proses”. Hasil akhir atau output adalah segalanya, dan segalanya harus berorientasi materi. Akhirnya budaya serba instan tersebut menyebar bahkan merasuk ke semangat rakyat indonesia.

Masyarakat berlomba-lomba untuk dapat melakukan sesuatu secara cepat, instan, kilat. Dari hal agama, pendidikan, kehidupan bermasyarakat, gaya hidup, pekerjaan semuanya instan. Dalam hal agama, budaya instan dapat kita lihat dari buku-buku agama yang diterbitkan, misalnya “cara cepat baca al qur’an, 1 jam bisa membaca al’quran, 1 jam mahir qur’an. Saya jadi ingat waktu saya belajar di TPA  dulu, untuk naik dari iqro 3 ke iqro 4 aja susah, atau untuk sampai ke level mulai membaca Al Qur’an harus memerlukan proses.

Dari hal pendidikan sekarang sudah ada kuliah kelas eksekutif dengan lulus lebih cepat, kelas akselerasi, nggak masuk kuliah pun bisa lulus, asal mbayar…hehe. Mahasiswanya pun pengen lulus dengan cara yang instan, SKS (Sistem Kebut Semalam) jadi pedoman belajar, g peduli tahu apa yang dipelajari yang penting lulus. Sampai pada akhirnya menggunakan cara-cara yang tidak dibenarkan, dengan mencontek. Dosenpun nggak kalah sama mahasiswanya, yang penting bisa memenuhi jam mengajar, skali pertemuan 2 atau 3 kali absen, nggak peduli mahasiswanya bisa mengerti atau tidak.

Dari hal kesehatan, ada cara cepat melangsingkan tubuh, cara cepat meninggikan badan, 30 hari tinggi naik 10 cm. Semuanya serba cepat, serba instan, tidak peduli lagi apakah itu baik bagi kesehatan atau tidak. Gaya hidup pun demikian, dari jaman dulu sebelum ada HP (Hand Phone), orang bersilaturahmi ke tetangga, saudara saat lebaran. Sekarang, jangankan mengirim kartu ucapan di kantor pos, cukup dengan SMS silaturahmi bisa tergantikan, bahkan dengan tetanggapun juga demikian. Orang berlomba-lomba makan di makanan cepat saji, yang penting mengikuti trend tanpa mempertimbangkan dampak kesehatan lagi.

Sampai akhirnya orang berlomba-lomba untuk cepat kaya. 1 bulan menjadi milyader, dan cara cepat lainnya untuk menjadi kaya menjadi panduan masyarakat, tanpa peduli lagi apa dampaknya. Sumini dulunya penjual jamu, sekarang jadi jualan saham, Lik Mukri dulunya bertani sekarang main valas. Inilah realita yang terjadi saat ini, sebuah hal penting yang akan terlupakan, yaitu “proses”. Orang sudah melupakan proses yang akan membuatnya matang dibidangnya, orang hanya mengejar kesuksesan materi tanpa nilai. Inilah reformasi yang ditunggangi semangat materialisme, hedonisme, kapitalisme dan isme-isme yang lainnya.

Mari sejenak kita renungkan, kita kembali kepada semangat kebersamaan, semangat reformasi yang menuju kearah perbaikan, bukan kebebasan tanpa batas dan materialisme.