Tag

, , ,


Sungguh sedih hati ini ketika melihat saudara-saudara kita di Wasior, Papua Barat mendapat musibah banjir bandang. Banjir bandang Wasior sejauh ini menelan 145 korban tewas,luka berat 185 orang, dan luka ringan 535 orang. Sementara, korban hilang mencapai 103 orang. Namun rasa sedih ini akan terobati apabila ada sedikit empati dari bapak kita, bapak presiden. Akan tetapi bukan itu yang didapat melainkan malah rasa sedih kita bertambah ketika bapak presiden menunda keberangkatannya ke Wasior.

Rasanya aneh sekali ketika dalam pidatonya bapak presiden kita, SBY berkata bahwa bencana wasior ini tidak sebesar bencana di Aceh. Apakah perlu hal tersebut diucapkan ketika sebagian rakyat Wasior tengah berduka. Kok saya merasa itu seperti menyepelekan bencana yang terjadi. Apakah nyawa ratusan orang kini sudah tidak dihargai lagi?? hal ini masih ditambah dengan penundaan keberangkatan pak presiden ke Wasior, menambah duka bagi kita semua. Lebih uniknya lagi bahwa presiden masih menyempatkan untuk nonton bola Indonesia Vs Uruguay daripada sekedar mengunjungi rakyatnya yang sedang tertimpa musibah. Mungkin dengan dibantai 7 – 1 oleh Uruguay bisa menjadi tanda bahwa tidak selayaknya presiden asyik2 nonton bola sementara rakyatnya sedang menderita.

Lalu seperti apa presiden yang diharapkan oleh kita semua?? Adalah presiden yang bisa menjadi bapak bagi bangsa kita ini. Maka sudah seharusnya seorang bapak harus bisa menentramkan anaknya yang sedang sakit, mengobati hati anaknya yang sedang sedih. Setidaknya presiden harus memiliki skala prioritas, mana yang harus didahulukan, mana yang harus diutamakan. Nonton bola atau mengunjungi anaknya yang sedang tertimpa musibah. Dan terlebih lagi tidak terkesan menyepelekan sebuah bencana, tidak membeda-bedakan, “yang ini lebih besar, yang ini bencananya tidak sebesar itu”. Tentu hati seorang anak akan sakit apabila ayahnya membeda-bedakan.Untuk Bapak Presiden, “Tolong Dengarkan Jeritan Hati Kami di Wasior”. Segeralah kunjungi anakmu yang sedang terluka, dan sedih. Mereka saat ini sangat membutuhkan sebuah empati dari seorang ayahnya. Untuk menumbuhkan kembali semangat mereka, agar mereka tidak terlarut dalam kesedihan, agar mereka memiliki kejelasan masa depan, agar mereka bisa kembali membangun negeri ini.