Tag

, , ,


Saya ingin mengajak kita semua untuk merenung, bahwa kita sesungguhnya bukan apa-apa. Disatu sisi kita tidak boleh merasa besar kepala dengan keberadaan kita saat ini. Arogan dengan segala sesuatu yang telah kita sandang karena pencapaian gelar, hebatnya kekayaan, kekuasaan.

Namun kita pun lantas tidak boleh hidup dengan berkecil hati, dan menyerah pada keaadaan. Karena setiap detik kehidupan kita telah dipilih dengan begitu cermat dan teliti oleh Yang Maha Mengatur. Tak ada selembar daunpun yang jatuh tanpa pengetahuan dan perhitungan-Nya.

Sungguh, setiap detik kita memiliki arti yang sangat luar biasa. Tatkala kita menyaksikan proses persalinan yang “Mahakrusial”, segeralah kita mengambil sisi kemanusiaan kita yang terdalam. Lihatlah dengan mata bathin anda bahwa kehidupan kita benar-benar dimulai dengan pranata “ksaih sayang dan peduli”. Ibu kita bertaruh, mempertaruhkan nyawa detik demi detik darah bersimbah. Inilah maha pengorbanan sesosok manusia perkasa didalam hidup kita. Pengorbanan mana lagi yang dapat membandingkan hal itu. Saya dan anda, jujurlah tidak akan mungkin mengelakkkan bahwa “kita lahir karena ada seseorang yang berkorban tanpa menuntut dan memberitahukan kepada kita apa yang dialaminya.

Kasih sayang, dari sanalah kita semua berasal. Itullah awal kita memulai kehidupan. Ada titik awal, tentulah ada titik akhir kita, yang bernama kematian. Apa sesungguhnya makna kejadian mati. Segala sesuatu yang berakhir. Lilin yang ditiup akan padam, lampu yang tak dialiri listrik akan mati.

Jelas kematian manusia berbeda dengan makhluk lain mengakhiri usianya. Kita tentu tidak ingin sama akhirnya dengan sebatang lilin. Ditiup sumber cahayanya lalu mati tidak berbekas. Pertanyaannya, apakah kita ingin mati tanpa bekas seperti lilin dan benda-benda? Kita mati dilupakan, tidak ada yang mengambil manfaat dan kesan dari kehidupan yang kita jalani. Kita seperti sebuah ketidaksengajaan, hidup tak sengaja ada dan mati tidak ada yang merasa kehilangan.

Manakah kesadaran kita mengisi hari hidup ini dengan manfaat dan kebajikan. Dua titik antara lahir dan mati ini kita isi dengan makna, sesuatu yang berarti. Bisakah kita? Harus bisa! Bila seseorang yang tidak pernah mengucap  Laa ilaha illallah, bisa membuat kebajikan yang dapat dipetik manfaatnya. Manfaat bagi orang lain dan tabungan amaliah kita untuk bekal hidup di kemudian hari.

Kecuali anda hanya berniat menjadi lilin. Dan inipun telah banyak  contoh yang telah menjadi sejarah dunia. Berapa banyak pemimpin dunia yang mangkat dan tidak dikenal sama sekali kebajikannya. Dihujat dan dimaki, tidak mengubah apa-apa. Mereka yang dikenal memiliki kecanikanyang elok. Hampir semua beakhir tanpa pujian, yang cantik menjadi nenek renta, orang yang segera lupa.

Jadi kehidupan adalah sebuah kesempatan yang dihadirkan begitu istimewa didepan kita. Diantara dua titik lahir-mati terdapat bentang kesempatan untuk setiap insan dalam mengukir manfaat dan prestasi.

Sekarang Ramadhan memeluk kita lagi. Sebuah kesempatan bagi kita untuk mengukur sejauh mana kita sudah menebar kebajikan dan bermanfaat bagi yang lain.