Tag

, , , ,


Untuk menjalin silaturahmi yang bernas dan bermakna saat idul Fitri 1431 H, dengan masyarakat luas Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan membuat dan menebar Kartu Lebaran senilai Rp. 1,7 Miliar.

Kartu Lebaran berbentuk kalender meja dengan ukuran 20 X 20 senitimeter itu bergambar diri Ahmad Heryawan, dibuat dalam tiga model. Model pertama pada muka utamanya bergambar Ahmad Heryawan menggunakan pakaian sipil lengkap (jas dasi) dan di muka kedua, tercetak kalender tahun 2011. Model kedua, pada halaman mukanya bergambar diri Heryawan mengngunakan baju batik motif Trusni Cirebon dan model ketiga pada halaman mukanya bergambar Heryawan menggunakan kemeja batik Garutan. Di kedua mukanya sama tercetak kalender tahun 2011 dan ketiga foto diri Heryawan itu tanpa mengenakan peci nasional.

Kepala Bagian Humas Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Drs. Iip Hidayat kepada wartawan Jumat (27/8) di Bandung menyebutkan, pembuatan kartu Lebaran itu sebagai bentuk silaturahmi Gubernur Jawa Barat dengan masyarakat luas.

Kartu Lebaran itu rencananya akan dikirim kepada Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi, Porkopimda Kabupaten / Kota, pimpinan Parpol, Ormas, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, Camat, Lurak / Kepala Desa, Ketua RW dan ketua RT. Kartu Lebaran itu dicetak sebanyak 450 ribu lembar, akan disebarkan kepada masyarakat melalui PT Pos Indonesia.

Menurut Iip, biaya pembuatan dan pengiriman kartu lebaran menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2010, untuk 450 ribu lembar itu akan disebarkan kepada masyarakat melalui PT Pos Indonesia, menggunakan prangko Prisma bergambar diri Ahmad Heryawan, menghabiskan biaya Rp 878.500.000,-.

Kepala Humas Kantor Pos Besar Bandung, Suyud Suhendra kepada wartawan membenarkan, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengirim Kartu Lebaran dengan biaya Alokasi dana itu terdiri atas biaya cetak Rp 700 juta dan prangko senilai Rp 1,012 miliar. Dengan demikian, total biayanya Rp 1,7 miliar.
Dikatakan Suyud, pengiriman Kartu Lebaran yang juga akan diikuti beberapa bupaiti/walikota, pimpinan Satuan Organisasi Pemerintahan, pimpinan perusahaan dan perorangan para pejabat itu disambut baik PT Pos Indonesia, karena akan mendongkrak pendapatan BUMN tersebut.

Ngeri dan miris kita melihat berita tersebut. Dana APBD yang sebegitu besarnya hanya digunakan untuk perangko dan kartu lebaran dengan tema “Narsis”. Tidak jelas apa tujuan dari Ahmad Heryawan tersebut, apakah untuk narsisme semata apakah bagian dari politik pencitraan yang lagi populer di negeri kita. Yang jelas apapun alasannya hal tersebut sungguh melukai hati warga Jawa Barat pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Salah satu pertanyaan lagi yaitu kenapa dana sebesar itu bisa disetujui oleh DPRD. Siapa yang salah? saya kira dua-duanya yang salah. Dimana fungsi “budget” dari DPRD, dimana fungsi “pengawasan” dari DPRD. Apakah fungsi bugdet hanya sekedar untuk menyetujui anggaran tanpa membahasnya, tanpa merevieunya. Memang negeri ini sangat kacau balau, tidak tahu lagi mana yang harus diprioritaskan, yang ada hanya memikirkan jabatannya di masa yang akan datang. Sakpenake udelmu dewe pak-pak..emang yang punya udel situ aja. Rakyat yang kelaparan, nggak bisa sekolah itu juga punya udel lho pak!!pikirkan udel mereka juga, kalo mau narsis pake biaya sendiri donk pak, jangan pakai APBD. Kalau pake APBD jadinya nggak cuman narsis tapi najis juga pak!! Semoga cepat sembuh dari penyakit narsisnya.