Tag

, , ,



Suatu ketika seorang penjual sayur menjajakan barang dagangannya keliling komplek. Dimana disana terdapat sebuah rumah seorang politikus terkenal. Pedagang sayur sengaja ingin menjual sayurnya kepada politikus yang dulu dia pilih. Kebetulan tiap hari minggu rumah sang politikus tidak ada penjaganya, jadi dia pikir bisa sedikit mengadukan nasibnya yang tidak beranjak dari garis kemiskinan. Yah, kalaupun naik ya dari dibawah garis kemiskinan menjadi pas digaris kemiskinan. Intinya ya tetap miskin.

“Apakah benar ya, kalau sudah terpilih mereka melupakan wong cilik ini” gumam pedagang sayur.  Sesampainya didepan rumah “elit politik” tersebut penjual sayur berteriak.

”Sayuurrr, sayur, sayur, masih segar” namun tidak ada jawaban dari rumah politikus tersebut.

“sayur pak, sayur buk, yang segar, yang hijau, baru saja petik”

“ah, sialan..dasar politikus, menemui penjual sayur macam aku sekarang sudah tidak mau lagi, dulu pada masa pemilu sampai datang ke pemukiman-pemukiman kumuh”..rasa kesal mulai menghinggapi pedagang sayur.

Akhirnya kesabaran  pedagang sayurpun hilang, dilemparnya rumah politikus tersebut dengan tomat, kangkung, kubis dan semua sayurnya dilempar ke rumah bertembok tinggi seperti benteng tersebut.

Dari sofa yang empuk dan nyaman dengan harga yang dapat digunakan untuk membeli 1000 grobak sayur dan dagangannya ini, sang politikus kaget.

“Suara apa itu, wah jangan-jangan ada demo ini” Keluarlah dia dengan piyama sutranya untuk melihat apa yang terjadi.

”Woi, ada apa ini, apa yang kamu lakukan!!!tanya politikus dengan nada tinggi.

“Saya mau jual sayur saya pak, ini sayur khusus saya jual buat bapak”dengan nada santai pedagang sayur tersebut menatap politikus yang tengah dibakar emosi. “Tenang pak, jangan emosi dulu, saya aja dulu tiap hari bapak datangi tidak emosi seperti ini”

“Bapak pasti lupa dengan saya, karena banyak orang seperti saya yang bapak temui ketika masa kampanye. Ini sayur saya jual murah saja pak.” Kata pedagang sayur sambil memegang beberapa sayurnya yang masih tersisa.

Sembari mengingat, politisi tersebut sedikit demi sedikit mulai menurunkan tensinya, wajahnya tidak lagi merah seperti tomat yang dilempar ke tembok politisi tersebut. “Ok, sekarang apa mau kamu?

“Kacang panjang dengan ulat-ulatnya saya jual 500.000 rupiah saja pak, trus tomat yang baru jatuh di selokan ini saya kasih diskon jadi 550.000 rupiah. Nah ini yang paling special, kubis dengan kotoran sapi yang masih nempel saya jual 600.000 rupiah.  Saya mau jual ini semua pak” dengan tatapan datar penjual sayur.

“Apa berjualan yang benar itu seperti itu? kamu tahu, dengan melempar rumah saya saja kamu bisa saya tuntut dengan pasal 1705 KUHP, tentang mengganggu pekerjaan orang lain!! Apalagi dengan menjual sayur busuk seperti itu, mau saya kurung 15 tahun penjara kamu. Itu namanya merugikan konsumen, siapa yang mau beli daganganmu kalau caramu seperti itu.” Dengan sedikit jumawa dan asal-asalan menyebut pasal, politikus berniat menakut-nakuti pedagang sayur.

“Kalau begitu pak, harusnya bapak dari dulu sudah ditahan. Bapak mengganggu pedagang sayur bekerja dengan menyuruh mereka mengikuti kampanye, dengan uang 15 ribu dan kadang ancaman agar kami mau ikut kampanye. Bapak mungkin menganggap saya gila, dengan berjualan barang busuk dengan harga yang mahal. Tapi saya kira bapak lebih gila lagi, Bapak menjual janji manis akan tetapi didalamnya penuh dengan kebusukan, penuh dengan ulat-ulat. Bapak menjual janji akan tetapi bapak juga yang membayarnya, dengan mengeluarkan 15 ribu rupiah untuk 1 janji yang kami beli. Saya kira penjual yang paling gila adalah politikus seperti bapak.” Pedagang sayur menghela nafasnya.

“Lihatlah pak, masih lebih baik saya bukan??Mungkin bapak masih pikir saya gila dengan menjual barang busuk dengan harga yang tinggi??

Politikus terdiam dan matanya sedikit berkaca-kaca mendengar apa yang baru saja didengarnya. “Baiklah, apa alasan kamu menjual sayur yang busuk dengan harga yang tinggi?”

Dengan lantang pedagang sayur berkata “Saya jualan barang busuk akan tetapi saya katakan semua kebusukannya, agar pembeli saya, termasuk bapak tahu. Itulah kenapa sayur saya mahal, karena ada kejujuran di dalamnya, ada keterbukaan didalamnya, dan itu juga yang membedakan saya dengan bapak.”

Politisi tersebut mulai meneteskan air mata, menangislah dia sejadi-jadinya, diingatnya semua janji-janji politiknya apabila dia menjadi wakil rakyat, diingatnya semua uang rakyat yang telah dikorupsinya. Segera dipeluknya pedagang sayur tersebut sembari berkata”Bapak benar, saya lebih busuk dari apa yang saya janjikan, saya khilaf pak, saya beli semua sayur bapak, saya berjanji akan memenuhi janji saya, memperhatikan nasib kaum bapak.”

“Mudah-mudahan masih ada elit politik kita yang ingat akan janji-janji mereka, elit politik yang amanah, elit politik yang memperhatikan nasib wong cilik, bukan elit politik yang berjualan janji manis, akan tetapi penuh dengan kebusukan.”Semoga.