Tag

, ,


the culture of fear

Image by bronwynlewis via Flickr

Akhir-akhir ini kita sering dikagetkan dengan berita-berita yang membuat merinding, paling nggak ya bikin shock lah. Dari mulai ledakan gas tabung elpiji 3 kg sampai dengan yang terbaru yaitu maraknya perampokan di bank, pegadaian dan toko-toko emas. Banyaknya pemberitaan, lambatnya penanganan membuat masyarakat mengalami apa yang dinamakan Culture of Fear. Secara mudahnya culture of fear dapat diartikan bahwa adanya ketakutan masyarakat untuk melakukan sesuatu karena adanya kejadian yang membuat ketidaknyamanan bagi masyarakat untuk melakukan hal tersebut. Misalnya dengan banyaknya ledakan tabung gas 3 kg tentu membuat masyarakat berfikir ulang untuk menggunakan tabung gas tersebut, jangan-jangan nanti gasnya meledak. Dengan maraknya perampokan di toko-toko emas, bank, pegadaian maka masyarakat jadi takut untuk pergi ke Bank, jangan-jangan nanti ada rampok, dll.

Dengan kejadian tersebut ada beberapa hal yang ingin saya garisbawahi, Yang pertama yaitu pemerintah selalu menunggu setelah kejadian baru berbuat. Artinya disini pemerintah lebih bersifat mengobati daripada mengantisipasi. Saya jadi ingat tulisan Ted Gaebler dan David Osbourne dalam bukunya Reinventing Government, yaitu bahwa pemerintah yang baik itu lebih bersifat mencegah daripada mengobati (Prevention rather than cure). Tapi kenyataannya pemerintah kita masih bersifat tradisional dimana selalu “mengobati” penyakit bukan untuk “mencegah” penyakit.

Yang kedua yaitu peran media informasi sebaiknya memberikan informasi yang berimbang. Artinya disini media tidak hanya memberikan berita secara jor-joran tanpa melihat efeknya kepada masyarakat. Harus ada pemberitaan yang bersifat “menentramkan” masyarakat. Sayangnya media kita saat ini hanya mengumbar berita yang memberi kesan “hiperbolik” atas kasus-kasus tersebut, atau bisa dibilang lebay lah..he2.

Yang ketiga yaitu ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk dapat menghilangkan Culture of Fear. Menurut sosiolog Imam B. Prasojo ada beberapa hal yang harus dilakukan pemerintah yaitu :

1. Kepemimpinan

Kepemimpinan  disini berarti bahwa pemerintah harus mampu menunjukkan diri sebagai Ing Ngarsa sung Tuladha atau didepan menjadi contoh bagi masyarakat. Dalam hal kasus tersebut pemerintah harus mampu menentramkan masyarakat dengan tindakan nyata. Pemerintah harus bersifat Preventif atau mencegah sebelum terjadinya sesuatu kasus.

2. Konsistensi

Setiap ada kasus atau permasalahan pemerintah harus konsisten untuk menyelesaikannya. lakukan dengan tindakan nyata, tidak seperti kasus ledakan gas dimana pemerintah saling lempar tanggung jawab. Pemerintah harus gentle dan segera mencari solusi.

3. Kejujuran / Honesty

Agar masyarakat percaya terhadap pemerintah maka pemerintah harus benar-benar memelihara hubungan baik dengan masyarakat yaitu dengan menjaga kejujuran. Katakan bahwa kondisi pemerintahan sedang buruk, apabila itu memang kondisi yang sebenarnya, jadi jangan hanya politik “pencitraan”. Sudah basi sepertinya apabila masyarakat hanya diberi janji-janji dan optimisme tapi tanpa tindakan nyata.

Apabila ketiga hal tersebut dilakukan dengan baik, media juga memberikan pemberitaan secara wajar serta adanya dukungan dari masyarakat dan sinergi ketiganya maka budaya takut atau “Culture of Fear” tidak akan terjadi di Indonesia. Merdeka!!!