Tag

,


Saatnya musim mudik telah mendekati seperti ini banyak orang rame-rame nyari tiket, hanya demi pulang kampung. Dari yang sibuk memantau tiket pesawat di internet, nyari tiket murah, bahkan ada yang sampai rela menunggu, menginap di tempat pembelian tiket kereta api hanya demi pulang kampung. Tidak hanya itu saja, sekarang yang lebih banyak lagi mudik dengan rame-rame naik sepeda motor. Mudik seperti ini biasa dilakukan dari Ibukota Jakarta menuju arah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat, yang bisa ditempuh dalam waktu +/- 12 jam. Sepertinya kalo dilihat rame-ramenya memang asyik, tapi kalo dilihat dari sisi keamanannya tentu sangat kurang. Apalagi sebagian pemudik membawa barang yang berlebih, dari kue, oleh2, baju baru, bahkan kambing pun ikut dibawa mudik.

Sudah banyak kejadian kecelakaan akibat pemudik dengan naik sepeda motor, namun saya kira hal ini tidak menyurutkan niat para pemudik untuk kembali ke kampung halaman.. weh ngeri sekali ya…Demi pulang kampung nyawa taruhannya…Lha itulah hebatnya mudik.

Sebenarnya kalo dilihat tujuannya sih tentu sangat mulia..”Namanya juga lebaran mas, saatnya kumpul dengan sanak saudara yang merantau di mana-mana” Kata Bejo (bukan nama lengkapnya).

“Wah berarti kalo gak lebaran mas Bejo gak bisa kumpul gitu ya?”

“Ya bisa mas, cuman kan gak lengkap, gak serame kalo lebaran gitu.”

‘Ooh gitu ya mas, ini ngomong-ngomong mas Bejo mau mudik ke mana?”

“Saya asal dari Wonogiri mas, sudah 4 tahun merantau di Jakarta. Ini rencana saya mau mudik naik motor mas, sama istri dan anak saya.”

Itu tadi obrolan singkat saya dengan mas Bejo, pemudik asal Wonogiri. Dari obrolan tadi saya jadi mikir, kenapa ya mesti ada pemudik? Sebenarnya peristiwa dan fenomena mudik ini harus menjadi perhatian pemerintah, betapa buruknya pemerataan pembangunan di daerah. Semua orang pergi ke Jakarta dan kota2 besar lainnya untuk bekerja. Ini berarti di daerah tempat mereka tinggal sudah tidak ada lagi peluang pekerjaan. Kalopun ada pekerjaan itu juga gak ada yang bayar…hehehe.


Itu kalo pemudiknya bekerja di sektor swasta, kalo pemudiknya itu PNS pusat yang penempatannya di seluruh penjuru mata angin..hehehe…itu persoalan lain lagi bang. Kalo itu menurut saya harus mendapat perhatian tersendiri juga. Hal ini mengingat karakteristik orang Indonesia yang kekeluargaanya masih tinggi, ya setidaknya penempatan pegawainya sesuai dengan daerah asal lah. Terkadang penempatan pegawai itu g memperhatikan hal2 seperti itu, padahal hal2 tersebut sedikit banyak mempengaruhi kinerja pegawai…wew..ngeri skali bahasa saya…..wkkkkk. Ya setidaknya jangan terlalu jauh lah penepatan pegawai tersebut, ato mugkin dalam hal penerimaannya dilakukan seleksi di tiap daerah, jadi ya lebih mengutamakan penduduk asal gitu deh.

Kembali lagi ke masalah mudik, dari fenomena ini yang banyak terjadi adalah lonjakan harga tiket. Hal ini tentu memberatkan pemudik, walaupun berapapun itu pasti dibeli. Ya disini pemerintah harus bener2 donk dalam memberantas praktek2 yang merugikan masyarakat. Dari penentuan batas kenaikan harga, sampai operasi terhadap calo2 tiket. Buat para pemudik sendiri agar lebih berhati-hati di jalan, berhenti apabila sudah mengantuk, perhatikan kelengkapan kendaraan sebelum berangkat mudik, dan yang paling penting berdoa sebelum berangkat. Okey selamat mudik dan semoga selamat samapi tujuan…